GUS DUR: SEORANG PAHLAWANKAH?


GUS DUR: SEORANG PAHLAWANKAH?
Oleh: Ahmad Suhendra*

 

“Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya bakti”
(Gugur Bunga: Ismail Marzuki)

Di akhir tahun 2009 menjelang awal tahun 2010 bangsa Indonesia berduka dan disedihkan dengan ‘kepergian’ salah satu anak terbaik bangsa, sang pembela minoritas, KH. Abdurrahman ad-Dakhil. atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Dur. Gus Dur merupakan tokoh yang sangat berjasa bagi Bangsa dan Negara ini. Gus Dur pernah menjadi orang nomor satu atau presiden di Indonesia yang ke empat. Lebih dari itu sosok Gus Dur banyak dikenal sebagai bapak pluralis di Indonesia. Gus Dur membangun nilai-nilai pluralis dalam bingkai demokrasi di Indonesia. Di dalam jiwanya terdapat sosok negarawan, budayawan, sosialis, agamawan, politisi, cendekiawan, sekaligus juga sebagai agamawan yang kental dengan dunai pesantren. Gus Dur ibarat satu mutiara yang jika diilhat dari berbagai sudut tetap indah dan menarik.


Gus Dur mempunyai pemikiran-pemikiran brilian dan membuat orang takjub. Yang terpenting pemikirannya itu tidak hanya sebatas wacana yang melangit, tetapi diaktualisasikan oleh Gus Dur dalam perbuatan-perbuatan yang bersifat humanis-realistis. Sekalipun terkadang pemikiran dan argumentasinya mengundang kontroversi, berlawanan dengan mainstream arus yang ada. Namun di situlah letak keunikan dan kelebihan yang dimiliki dan terdapat dalam setiap pemikiran-pemikiran atau argumentasi-argumentasi yang dicetuskan Gus Dur.

Sebagai seorang agamawan Gus Dur tidak melupakan ‘dunia’-nya yakni pesantren. Pesantren dapat menjadi sejajar dan ‘diakui’ oleh pemerintah bahkan dunia Internasional itu berkat jasa ‘idealisme’ ke-pesantrean-an dan perjuangan Gus Dur. Beliau juga yang membidani adanya unit koperasi perekonomian di lingkungan pesantren.

Sebagai seorang pluralis, Gus Dur selalu mengakui semua golongan dan tidak melakukan deskriminasi atas golongan-golongan tertentu, bahkan Gus Dur justru sering membela orang maupun golongan minoritas, yang ‘tertindas’. Hal ini dibuktikan, salah satunya dengan, pengakuan Konghucu sebagai agama resmi Nasional di Republik Indonesia. Dan Imlek resmi menjadi salah satu hari besar keagamaan Nasional. Hal ini mengundang orang-orang konghucu untuk ‘berterima-kasih’ kepada beliau. Karena dengan demikian agama konghucu di Indonesia menjadi ‘bebas’ bergerak dan sejajar dengan agama-agama lain yang telah ‘resmi’ terlebih dahulu di Indonesia. Sebagai seorang politisi, arah politik beliau sulit dibaca dan ditebak. Gus Dur sebagai bapak politik Indonesia. sehingga keputusan-keputusan beliau terutama saat menjadi presiden banyak mengundang kontroversi dan kecaman dari berbagai kalangan, terutama bagi mereka yang tidak memahami jalur pemikirannya.

Begitulah sekelumit gambaran tentang Gus Dur, banyak orang merasa kehilangan beliau, tidak sedikit orang bersedih karena kepergian beliau, beberapa tokoh menyatakan ‘keunggulannya’. Sepeninggalnya Beliau banyak orang yang mengusulkan beliau sebagai pahlawan nasional. Bahkan ada yang mengusulkan nama beliau dijadikan salah satu nama jalan. Memang Gelar pahlawan bagi Gus Dur sudah layak untuk di dapatnya, sebagaimana ucapan bapak Amien Rais, diberbagai media massa maupun di media televisi. Karena jasa-jasa yang dilakukan oleh Gus dur untuk Bangsa dan Negara ini.

Namun penyerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur perlu diklarifikasi kembali. Dalam arti perlu ditinjau kembali tsecara historis yang menyangkut diantaranya tulisan-tulisan atau karya-karya Beliau, gagasan yang diberikan untuk Bangsa dan Negara Indonesia. Perlu dikaji juga ketika beliau menjabat sebagai presiden atau jabatan-jabatan yang pernah di laksanakannya, bagiaman beliau dalam melaksanakan jabatan tersebut? Jika ada permasalahan, permasalahan apa saja yang dihadapi beliau dan bagaimana beliau menindaknya? Tentunya dalam melakukan klarifikasi atau peninjuan ulang ini jangan dilihat dari satu sisi saja, tetapi harus dilihat dan diambil pertimbangan dari berbagai sisi. Hal ini semua dimaksudkan agar gelar pahlawan nasional yang dianugerahkan kepada Gus Dur bernilai objektif.


Permasalahan gelar pahlawan nasional dapat dikatakan penting, tetapi yang paling penting adalah melanjutkan cita-cita dan perjuangan Gus Dur. Pluralism di Indonesia sudah menjadi ‘amanah’ Bangsa ini yang harus dijaga dan dilestarikan. Selain itu, jangan lupa juga untuk selalu membela kaum minoritas dan mengangkat kaum minoritas menjadi sejajar dengan kaum mayoritas. Masih terdapat kaum minoritas yang belum ‘terangkat’ ke dalam permukaan bumi Indonesia, mereka masih ‘diasingkan’, selalu dikucilkan, bahkan dianggap ‘sesat’ oleh sebagian golongan.

*) Penulis adalah Mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s