Re-Interpretasi Kitab Suci Keagamaan; Upaya Pencegahan Perbuatan ‘Anarkhis’ Atasnama Agama


Re-Interpretasi Kitab Suci Keagamaan; Upaya Pencegahan Perbuatan ‘Anarkhis’ Atasnama Agama

Oleh Ahmad Suhendra

Saat melihat dan mendengar kejadian penusukan Pendeta AKBP di Bekasi dan perisitwa Ahmadiyyah di Bogor, perasaan saya sangat miris. Jika meliahat kejadian tersebut, sebagai seorang muslim hati berkata, “orang islam ko perilakunya tidak islami, kasar, anarkhis atau bahkan tidak bermoral. Saya sebagai orang islam saja beranggapan demikian, apalagi teman-teman kita yang non-muslim? Kejadian itu merupakan cermin, bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia masih rapuh. Apakah dalam agama islam dianjurkan untuk berbuat anakhis seperti itu? Bukannya islam mengajarkan cinta damai? Bukannya islam rahmat bagi seluruh alam?

Banyak yang berkoar-koar penegakkan syari’at islam, harus islami tetapi kelakuannya tidak menunjukkan nilai-nilai keislaman. Salah satu Tokoh muslim Indonesia, Nuchalish Madjid, pernah menulis, “kita harus muslim di tengah umat islam sendiri”.

Ungkapan itu, atau lebih tepatnya kalimat itu, secata tidak langsung mengajak dan mengingatkan kita supaya benar-benar memegang nilai-nilai islam. Bukan hanya symbol-simbol yang katanya islami yang selalu dilontarkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana menjadi muslim yang seutuhnya, muslim yang mengerti dan paham mana syari’at (ajaran agama) mana budaya. Mana aturan mana tradisi, mana anjuran temporal mana universal, mana tekstual mana kontekstual.

Melukai atau bahkan membunuh atas nama agama tidaklah dibenarkan, dengan alas an apapaun. Sehingga salah satu dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Sahiron Syamsuddin, Ph.D, menawarkan menafsiran moderat. Karena salaha memahmi suatu kitab suci akan berakibat salah dalam memahami ajaran agama, jika salah memahami ajaran agama, maka salah bertindak. Dalam mengejawantahkan atau memaknai suatu teks suci keagamaan perlu pemahaman yang mendalam dan luas. Yang saya maksud mendalam dalam hal ini adalah, tidak serta merta kita memahami teks secara terbuka, secara telanjang begitu saja sesuai teksi itu berbunyai. Akan tetepi perlu ada analisis, penelusuran dari aspek sosio-historis ayat itu diturunkan atau hadis itu diucapkan (dalam istilah keilmuan tafsir di sebut asbab al-nuzul dan dalam keilmuan hadis di sebut asbab al-wurud). Namun tidak hanya itu, perlu adanya pengkajian linguistic (kebahasaan), gramatikal kebahasaan, dan banyak lagi. Tidak hanya sampai di situ, perlu adanya kontekstualisasi dalam masa sekarang. Teks yang kita pahami sekarang kita tarik ke sejarah masa nabi, pesan moral dari ajaran tersebut dicari, setelah dapat, ditarik kembali ke dalam wilayah kekinian.

Sebenarnya uraian di atas hanya gambaran sangat singkat upaya memperolah pemahaman yang tepat, jika tidak dikatan benar. Karena kebenaran adalah milik Tuhan, manusia hanya mengklaim kebenaran itu.

Iklan

2 thoughts on “Re-Interpretasi Kitab Suci Keagamaan; Upaya Pencegahan Perbuatan ‘Anarkhis’ Atasnama Agama

  1. jalan keluar untuk itu sebenarnya banyak; banyak para tokoh memberikan penawaran gagasan membangun untuk memcahkan itu. Namun, tidak sedikit dari gagasan mereka ditolak oleh umat islam sendiri dan beberapa tokoh agama. Saya secara pribadi tidak mengerti dan tidak tahu alasan mereka menolak itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s