100 HARI KEPULANGAN GUS DUR DAN KESATUAN NKRI


Wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, atau yang biasa disapa Gus Dur, banyak orang yang merasa kehilangan. Rasa kehilangan tidak hanya dirasakan kaum nahdhiyyin dan juga tidak hanya umat Islam . Akan Tapi, dirasakan oleh semua elemen masyarakat dan bangsa ini kehilangan tokoh terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Jasa yang telah diberikan beliau kepada Bangsa dan Negara kita tercinta teramat besar sekali. Hal ini dapat dilihat dari feomena saat detik-detik wafat dan pemakaman Gus Dur sampai peringatan 100 hari kepulangannya.

Semua pemeluk agama ikut mendoakan dan mengiringi kepergian guru Bangsa tersebut. Tidak hanya dari berbagai macam Agama tapi berbagai macam ras, suku, dan etnis dalam mengiring kepergian beliau, juga tidak kalah ketinggalan para seniman dan budayawan.

Begitu juga tidak kalah meriah dan menariknya saat peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur di Alun-Alun Utara Yogyakarta dan di daerah-daerah lain, sabtu (10/4). Acara yang dimulai dengan pertunjukkan karnaval dari berbagai elemen masyarakat dan suku daerah diadakan saat siang hari dan malam harinya diadakan tahlilan akbar serta pentas seni yang dihadiri Ahmad Dani. Para peserta karnaval berasal dari berbagai macam daerah dan agama, sebut saja dari Irian Jaya, Lampung, dan sebagainya.

Hal ini membuktikan bahwa sosok Gus Dur merupakan adalah milik semua golongan. Sosok Gus Dur merupakan tokoh yang sangat berjasa. Sosok Gus Dur merupakan orang terbaik yang pernah dimiliki Bangsa dan Negara Indonesia. luar biasa, kata itu yang dapat saya katakan. Sekalipun saya belum pernah berjumpa dan “baru” mengenal Gus Dur, saya kagum  kepada beliau. Kekaguman ini bukan didasari karena beliau keturunan kiyai besar, KH. Hasyim Asy’ari, bukan karena beliau orang NU, juga bukan karena beliau seorang kiyai. Tapi rasa kagum saya kepada beliau didasari atas kepribadian beliau dalam menyikapi dan menghadapi problematika keindonesiaan. Kepribadian Gus Dur yang inklusif, toleran, membela hak-hak minoritas dan orang-orang tertindas. Membuat saya dan banyak orang merasa mengaguminya dan merasa kehilangan saat kepergiannya.

Sosok Gus Dur merupakan kiyai yang intelek, dan intelek yang kiyai. Sebagai salah satu “orang penting” di PBNU, Gus Dur memberikan warna dan perubahan progresif di lingkungan NU dan kalangan Nahdhiyyin. Gus Dur memberikan gerakan-gerakan transformative bagi pemahaman keagamaan dan keindonesiaan.

Pluralitas Bangsa

Negara Kesatuan Republik Indonesia. mendengar kalimat tersebut, saya sebagai Warga Negara Indonesia, terasa begitu terpesona dan bangga. Indonesia yang besar dan kaya akan budaya dan Sumber Daya Alam, yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, etnis, dan agama ini perlu dipertahankan dan dijaga. Agar kesatuan NKRI ini tetap terbangun kokoh. Dengan nilai-nilai pluralitas yang sudah “alamiah” ada ini, perlu dilestarikan dengan seksama.

Selain untuk menjunjung tinggi kesatuan NKRI, menjaga pluralitas kebangsaan, adalah untuk membentuk karakter Bangsa. Karakter bangsa yang mengandung nilai-nilai keindonesiaan ini, yang membedakan manusia Indonesia dari manusia-manusia yang lain. Namun, juga perlu adanya tujuan yang sama untuk Bangsa dan Negara Indonesia. Tujuan itu dapat diimplementasikan, salah satunya, dengan adanya  kesadaran atas pluralitas dan peduli terhadap kaum-kaum tertindas, tanpa memandang golongan, agama, suku, ras. Membela hak-hak orang-orang tertindas. Hal-hal demikianlah yang “diajarkan” Gus Dur kepada kita dan bangsa Indonesia.

Masyarakat mempunyai peran kontrol sosial yang bisa diandalkan ,disamping pemerintah. Namun perlu disayangkan sekarang adalah, pertama, sulitnya menetapkan pemerintah yang sesuai hukum. Kesulitan kedua adalah membangun kerangka kerja ekonomi untuk distribusi kesejahteraan yang merata dan merekatkan kohesi sosial.

Indonesia harus menjadi Bangsa “Modern”. Untuk menjadi Bangsa “modern” perlu proses yang panjang dan tidak mudah. Perlu perbaikan dan perubahan dalam berbagai aspek. Semisalnya, kiranya perlu adanya perubahan yang signifikan dalam lingkungan pemerintahan maupun dalam lingkungan sosial kemasyarakatan. Dalam lingkungan pemerintahan, perlu adanya perbaikan sistem dan moral para pemerintah, khususnya terhadap budaya korupsi. Dan dalam lingkungan masyrakat perlu adanya perubahan pola piker yang menyangkut perbedaan suku, agama, ras, dan etnis. Memang tidak semudah dan sekecil itu permasalahan di Indonesia, karena begitu komplek dan beragam. Namun, kiranya jika kedua factor tersebut dapat diatasi secara menyeluruh, maka setidaknya akan memperbaiki karakter Bangsa Indonesia yang tercoreng.

Dengan demikian, perlu kiranya mengaktualisasikan apa yang dipesankan dan apa yang diajarkan Gus Dur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebagai pengejawantahan pemikiran-pemikiran Gus Dur. Sehingga beliau masih tetap “hidup”. Sekalipun jasad beliau sudah tiada, tapi ajaran dan pemikiran-pemikiran beliau masih tetap hidup dan kita amalkan.

*) Ahmad Suhendra adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan

One thought on “100 HARI KEPULANGAN GUS DUR DAN KESATUAN NKRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s