Hakikat Sebuah Generasi


Beberpa tahun silam para pemuda memperjuangkan dan membela kemerdekaan Indonesia dari kolonial penjajah. Bahkan, karena keinginan terbebas dari penjajahan begitu kuat, para pemuda pun menculik Sukarno ke Rangkasdengklok.

Mereka mendesak Sukarno untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda saat itu berusaha menyatukan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan dalam satu wadah, Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda 82 tahun silam, perlu terus dipertahankan dan diikuti oleh para pemuda sekarang. Karena pemuda merupakan harta yang berharga bagi suatu Bangsa dan Negara. Begitu juga para pemuda Indonesia yang menjadi harta bagi Negara Indonesia. Karena para pamuda sekarang merupakan calon pemimpin di masa mendatang dan akan menentukan ‘nasib’ Indonesia ke depan.

Pada tanggal 28 Okotober kemarin, banyak kalangan memperingati hari Sumpah Pemuda dengan beragam acara, mulai dari acara formal sampai non-formal. Dengan harapan semua pihak, khususnya para generasi muda, dapat meneladani Sumpah Pemuda.

Saat itu penulis bertanya dalam hati, apakah dengan mengadakan acara-acara dalam memperingati dan merayakan Hari Sumpah Pemuda, dengan tanpa action, sudah cukup? Tentu, jawabannya tidak. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang paling urgent perlu dilakukan pemuda sekarang?

Bagi penulis, dalam konteks sekarang pemuda Indonesia harus mempertahankan bentuk manunggal dari keragaman suku, agama, ras, dan golongan. Maksudnya, bukan berarti untuk menyamakan dan menyeragamkan menjadi satu suku, agama, ras, atau golongan tertentu, tetapi hidup bersama dalam keberagaman.

Pemuda jangan mudah dibujuk, dikebiri dan diprovokasi oleh segelintir orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan bersifat individual-pragmatis. Namun Sebaliknya pemuda perlu melakukan perubahan dan membekali diri, baik dalam aspek wawasan (knowledge), keilmuan (science), keahlian (skill) dan kepribadian (ethic-spiritual).

Dengan keempat aspek di atas, diharapkan pemuda menjadi insan perubahan yang bermanfaat bagi orang lain, masyarakat dan Negara. Jangan sampai pemuda menjadi beban generasi tua (orang tua) dan Negara.

Pemuda memang diakui sebagai sosok yang berfisik kuat, berkeinginan tinggi dan menjadi harapan bagi masyarakat. Kehadiran pemuda merupakan janin dari embrio suatu generasi baru (the new of generation) yang ada dalam tatanan sosio-kultural dalam lingkungan masyarakat.

Pengertian generasi pada hakikatnya dapat dibedakan atas empat aspek yaitu biologis, historis-kultural, sosial, dan psikologi (N. Daldjoni, 1974). Aspek biologis pemuda, tentu saja, berbeda dengan generasi tua dan anak-anak.

Sebagai perbandingan bahwa pemuda lebih bertenaga dibanding generasi tua, dan daya tahan tubuk pemuda lebih kuat dibanding generasi tua, yang rentan terkena penyakit. Akan tetapi, pemuda lebih emosional dan terkadang terjadi konflik dengan pemuda lainnya hanya disebabkan oleh kesalahan atau tindakan sepele.

Secara historis-kultural pemuda belum mempunyai wawasan atau pengalaman yang cukup matang dibanding generasi tua. Begitu juga dari aspek sosial, pemuda diakui jarang dan sedikit yang mau berkecimpung atau berinteraksi dengan generasi tua.

Adanya kesenjangan antara pemuda dan generasi tua dapat disebabkan dua alasan, pertama, generasi tua kurang mengikutsertakan pemuda dalam event-event tertentu. Kedua, pemudanya yang acuh dan tidak mau nimbrung.

Antara pemuda dan generasi tua harus terjalin hubungan fungsional. Dengan kata lain, generasi tua berkewajiban membimbing pemuda. Dan sebaliknya, pemuda juga berkewajiban mengisi akumulator generasi tua yang semakin melemah (N. Daldjoni, 1974).

Kemudian aspek psikologis, pemuda merupakan tahap ‘pematangan’ dalam pola pikir maupun dalam faktor hormon kedewasaannya. Keadaan itu membentuk pemuda sebagai ‘makhluk bergairah’, yang mempunyai semangat tinggi dalam memperjuangkan keinginannya.

Akan tetapi, psikologis-mental pemuda mudah terbawa ‘sesuatu’ yang telah masuk dalam pikirannya. Sehingga faktor endogen, yakni saat pemuda merasakan, melihat dan menghadapi, dan eksogen dirinya sangat mempengaruhi pembentukkan sebagai sesosok pembawa pembaharu positif atau menjadi sesosok pembawa pembaharu negatif (N. Daldjoni, 1974).

Dengan demikian, perlu adanya pengarahan dan bimbingan terhadap biologis, historis-kultural, sosial, psikologi dan spiritual, sehingga terjadi adanya keseimbangan dalam pembentukkan suatu karakter yang diharapkan oleh generasi tua. Karena mereka (baca para pemuda) sebagai the new generation yang harus membawa perubahan kearah yang lebih dinamis, positif dan berkualitas.

*) Ahmad Suhendra, Penulis, adalah Mahasiswa UIN Sunana Kalijaga Yogyakarta

Iklan

2 thoughts on “Hakikat Sebuah Generasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s