English: 11th Century North African Qur’an in ...
English: 11th Century North African Qur’an in the British Museum (Photo credit: Wikipedia)
  1. Is not Allah sufficient for his servant? - II
    Is not Allah sufficient for his servant? – II (Photo credit: д§mд)

    A.    Pendahuluan

Dunia pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan. Realitas dunia pendidikan Indonesia saat ini tampaknya menunjukkan semakin terpisahnya antara apa yang dipelajari di bangku sekolah dengan pengalaman konkret dalam masyarakat. Belum lagi, biaya pendidikan bagi rakyat kecil seolah masih menjadi ‘barang mahal’. Dengan berbagai problem yang mengitari dunia pendidikan Indonesia, setidaknya ada dua hal yang menjadi konteks reformasi pendidikan Indonesia. Pertama, tentang sistem pendidikan di Indonesia dan perubahan-perubahan besar yang terjadi sejak diterapkannya sistem sosio-politik yang demokratis, yang berdampak signifikan pada dunia pendidikan. Kedua, reformasi manajemen dan kurikulum yang telah mengikuti perubahan politik, nilai-nilai, cara berpikir yang diwujudkannya.[1]

Jika menengok model-model maupun metode dan paradigma pandidikan yang ditemukan para sarjana barat, sangat komplek sekali. Namun dalam hal ini, akan dikaji dari penafsiran al-Qur’an, terutama surat an-Nahl ayat 78. Hal ini beralasa, al-Qur’an dan al-Hadis merupakan rujukan utama kaum muslimin dalam berbagai  aktifitas, termasuk pendidikan.

  1. B.     Al-Qur’an Membahas Pendidikan

ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«ø‹x© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ

Artinya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.[2]

Dalam ayat di atas, Allah menerangkan kekuasaan-Nya yang sempurna dan pengetahuan-Nya terhadap segala kegaiban langit dan bumi. Semua itu hanya dimiliki Allah. Maka tiada seorang pun yang dapat melihat kegaiban kecuali jika Allah memperlihatkan sesuatu yang dikehendaki-Nya kepada seseorang.

Sedangkan, Sayyid Quthub menjadikan ayat ini sebagai pemaparan contoh sederhana dalam kehidupan manusia yang tidak dapat terjangkau oleh manusia, yakni kelahiran, padahal itu terjadi setiap saat. Mungkin manusia dapat melihat tahap pertumbuhan janin, tetapi dia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut terjadi, karena rahasianya merupakan rahasia kehidupan.[3] Sesudah mencapai kesempurnaan, Allah mengeluarkan manusia itu dari rahim ibu, pada waktu itu dia tidak mengetahui sesuatu. Akan tetapi, sewaktu masih dalam rahim, Allah swt. menganugerahkan kesediaan-kesediaan (bakat) dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, berbahagia, mengindra dan lain sebagainya. Setelah manusia itu lahir, dengan hidayah Allah segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu manusia mengenali dunia sekitanya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang.

Ayat di atas menggunakan kata as-sama’ dengan bentuk tunggal dan menempatkannya sebelum kata al-abshar yang berbentuk jamak serta al-af’idah yang juga berbentuk jamak. Kata yang terakhir dipahami oleh banyak ulama dalam arti akal. Makna ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya ilahi.

Didahulukannya kata pendengaran atas penglihatan, merupakan perurutan yang sungguh tepat, karena memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indera pendengaran berfungsi mendahului indera penglihatan. Daya dan indra ini diperoleh manusia secara berangsur-angsur. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya itu dimaksudkan agar dia dapat beribadah kepada Rabbnya dan dijadikan sarana ketaatan kepada Allah swt. Aspek lain, ayat di atas menunjuk kepada alat-alat pokok yang digunakan untuk meraih (ilmu) pengetahuan. Alat pokok pada objek yang bersifat material adalah mata dan telinga, sedang pada objek yang bersifat immaterial adalah akal dan hati.

Dipilihnya bentuk jamak untuk penglihatan dan hati, karena yang didengar selalu saja sama, baik oleh seorang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datanganya suara. Ini bebeda dengan apa yang dilihat. Posisi tempat berpijak dan arah pandang melahirkan perbedaan. Demikian juga hasil kerja akal dan hati, hati manusia terkadang senang, satu waktu susah, benci dan sekali rindu, tingkat-tingkatnya berbeda-beda walau objek yang dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun demikian. Ia dapat berbeda, boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat, dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal. Istilahnya, kepala sama berambut, tetapi pikiran berbeda-beda.

Dalam pandangan al-Qur’an ada wujud yang tidak tampak, sekalipun tajamnya penglihatan atau pikiran. Banyak hal yang tidak dapat terjangkau oleh indera, bahkan oleh akal manusia. Yang dapat menangkapnya hanyalah hati, melalui wahyu, ilham, dan keimanan. Dengan begitu al-Qur’an, di samping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan, juga memerintahkan agar mengasah akal, yakni daya pikir dan mengasuh pula daya kalbu.

Akal dalam arti daya pikir hanya mampu berfungsi dalam batas-batas tertentu. Ia tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika ini. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata, dan dalam bidang ini pun terkadang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal, sehingga hasil penalaran akal tidak merupakan jaminan bagi seluruh kebenaran. Alat-alat yang dianugerahkan Allah, yang telah disebutkan di atas, masih belum digunakan oleh umat Islam, bahkan para penuntut ilmu secara sempurna.

Kalimat la ta’lamuna syai`an dalam ayat di atas sebagai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikitpun pengetahuan. Manusia bagaikan kertas putih yang belum dibubuhi satu huruf pun. Pendapat ini benar jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetahuan kasbiy, yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi. Tetapi ia meleset jika menafikan segala macam pengetahuan, karena manusia lahir membawa fitrah kesucian yang melekat pada dirinya sejak lahir, yakni fitrah yang menjadikannya mengetahui bahwa Allah Maha Esa.

Dengan demikian, aspek pendidikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia secara batiniah maupun lahiriah. Dengan pendidikan manusia akan menjadi makhluk yang melakukan perubahan di bumi. Untuk melangsungkan tugasnya sebagai khalifah di bumi manusia harus mengenyam pendidikan. Pendidikan sebagai penopang keberlangsungan manusia dalam beribadah.

Kalau ditelusuri dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat yang berkaitan dengan pendidikan. Terdapat ayat menekankan pentingnya berpikir, meneliti, dan memahami realitas secara keseluruhan, dan sebagainya. Bahkan, ayat pertama diturunkan adalah ayat yang secara tekstual memerintahkan untuk membaca.

Membaca tentu terkait dengan belajar, dan belajar berkaitan dengan pendidikan. Membaca justru menjadi inti dari pendidikan. Lewat membaca akan diperoleh informasi dan kekayaan khazanah yang tidak terbatas. Jika dianalogikan secara mendalam, ilmu tidak akan diperoleh secara maksimal kecuali melalui jalur pendidikan.

Pendidikan memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan. Makna penting pendidikan ini telah menjadi kesepakatan luas dari setiap elemen masyarakat. Lewat pendidikan, bisa diukur maju mundurnya suatu negara. Sebuah negara akan tumbuh pesat dan maju dalam segenap kehidupan jika ditopang oleh pendidikan yang berkualitas.[4] Dengan demikian, signifikansi pendidikan juga menjadi perhatian dalam ajaran Islam. Karena Islam menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat vital.


[1] Raihani, Kepemimpinan Sekolah Transformatif (Yogyakarta: LKiS, 2010), hlm.53.

[2] QS. an-Nahl, ayat 78.

[3] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2010), hlm. 307.

[4] As’aril Muhajir, Ilmu Pendidikan Perspektif Kontekstual  (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 4.

Iklan

2 thoughts on “PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s