PERKUAT PERSAUDARAAN KITA


 

PERKUAT PERSAUDARAAN KITA

 

Oleh Ahmad Suhendra[*]

 

Andigium “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” sudah semakin luntur dalam budaya masyarakat Indonesia. Hal itu terbukti dengan konflik sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Belum hilang dari ingatan kita kasus persengketaan antara warga dengan pengusaha di Mesuji.

 

Sekarang mencuat kembali konflik lainnya yang terjdi di Lampung. Kasus yang menghilangkan kurang lebih 14 nyawa perlu mendapatkan penanganan serius. Jangan sampai kasus ini menjadi semakin melebar. Dalam beberapa hari terakhir, konflik sosial di beberapa daerah rentan terjadi hanya disebabkan masalah sepele.

 

Masyarakat Indonesia yang plural baik dari segi agama, etnis, suku dan ras dihadapkan pada kondisi disintegrasi kemanusiaan. Itu terbukti dari serangkaian kasus yang terjadi di Indonesia. Terlepas dari kompleksitas yang melatarbelakangi konflik di Lampung, sebenarnya ini terkait kesukuan yang bersifat klasik. Masyarakat yang bertikai lebih mengedapankan ego-etnisisme dibanding “Persatuan Indonesia” yang sudah termakdum dalam Pancasila.

 

Menurut Haryatmoko (2012), “batas toleransi suatu kelompok sosial terlihat pada saat kebaharuan atau apa uang asing mulai mengancam keberadaan kelompok.” Nilai-nilai toleransi kesukuan yang sudah terbangun sekian lama pun ikut ternodai dengan adanya konflik sosial.

 

Konflik tersebut tidak selaras dengan karakter bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Lampung. Masyarakat lampung memiliki prinsip sosial yang inklusif, misalnya ada prinsip sakai sambaian, pi’il pasengikhi, nemui nyimah dan sebagainya. Prinsip-prinsip itu sebetulnya mengajarkan untuk dapat merawat hubungan sosial yang baik.

 

Selain itu, budaya masyarakat Lampung dikenal kental dengan budaya keislaman. Di dalam tradisi Islam, tindakan yang membawa kemudharatan (keterpurukan/kerugian) sangat ditentang keras. Apalagi tindakan yang dapat menghilangkan nyawa orang lain.

 

Tidak heran, jika The Fund for Peace, menempatkan Indonesia pada peringkat 63 dalam indeks negara-negara gagal 2012. Hal itu berkaitan dengan meningkatnya pelanggaran dan melemahnya penegakkan HAM yang berakibat lunturnya kontrak sosial. Di sisi lain, negara lemah dalam menjamin keamanan dan mengantisipasi terjadinya konflik-konflik sosial.

 

Konsep Persaudaraan dalam Islam

 

Ajaran Islam yang termakdum dalam al-Qur’an dan hadis melarang umatnya untuk terpecah belah dan melarang untuk saling bertikai satu sama lain. Berkaitan dengan masalah ini, al-Qur’an memberikan ultimatum dalam surat al-Hujurat: 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

 

Ayat di atas menjelaskan secara gamblang bahwa sesama umat Islam itu bersaudara. Tidak hanya berarti bersaudara karena satu turunan, tetapi juga karena satu ikatan keyakinan. Dengan persaudaraan yang terbangun maka akan melahirkan kesejahteraan sosial.

 

Apabila terjadi konflik sosial, menurut ayat di atas, semestinya diselesaikan secara cepat dengan fundamental. Hal ini untuk mencegah konflik yang berkepanjangan dan konflik yang lebih luas. Dalam hal ini, pelaksana negara semestinya dapat mengantisipasi konflik Lampung.

 

Di sisi lain, diperlukan juga kesadaran solidaritas persaudaraan antar warga di suatu daerah. Karena Nabi pernah bersabda, “antara satu orang muslim dengan orang muslim lainnya ibarat satu badan.” Apabila salah satu anggota badan ada yang sakit, maka anggota yang lain ikut merasakannya.

 

Hadis di atas menunjukkan begitu kuatnya ikatan persaudaraan yang dibentuk oleh Nabi pada saat itu. Kesalehan sosial berupa ikatan persaudaraan mendapat penekanan yang sangat signifikan dalam konteks kemasyarakatan. Kesalehan sosial itu perlu dibentuk dengan kesadaran sosial berbasis religius-keimanan.

 

Urgensi Persaudaraan Kebangsaan

 

Islam memandang aspek kehidupan bermasyarakat harus dirawat dengan utuh dan kokoh. Nabi Muhammad saw. sudah memberikan contoh dalam membentuk tatanan masyarakat madani (civil society). Beliau memberikan satu kunci untuk membentuk itu, yaitu menguatkan persaudaraan (ukhuwah).

 

Sebelum Nabi datang ke Madinah (Yatsrib), di sana terdapat dua suku yang bertikai yakni suku Aus dan Khazraj. Kedua suku itu saling menghancurkan, saling membunuh dan saling berperang selama hampir 120 tahun.

 

Persengketaan itu baru dapat terselesaikan ketika Nabi hijrah ke Madinah (Yatsrib) dengan menitikberatkan pada aspek persaudaraan (ukhuwah) yang memberikan kemaslahahtan bersama. Persaudaraan (ukhuwah) menjadi hal yang signifikan dalam membangun masyarakat madani (civil society).

 

Saat itu masyarakat Madinah sangat plural terdiri dari berbagai suku dan agama. Negara yang dibentuk atas masyarakat yang memiliki konsep nilai yang berbeda dan beragam. Tapi Nabi dapat mempersatukan persepsi mereka dalam kesepakatan perjanjian Madinah.

 

Kesepakatan yang dibuat dapat mengakomodir kepentingan masyarakat yang plural. Dengan mengedepankan etika berkonsolidasi, maka perbedaan yang ada melebur menjadi persatuan yang harmonis. Karena tidak terjadi berat sebelah pada kelompok atau suku tertentu. Nabi dalam hal ini mengedepankan persaudaraan kebangsaan untuk menyatukan semua elemen masyaraka di Madinah

 

Penguatan basis persaudaraan sesama umat Islam itu penting. Tetapi persaudaraan (ukhuwah) berbasis kebangsaan yang berasaskan “Bhineka Tunggal Ika” itu juga penting. Konflik sosial yang terjadi di beberapa daerah, menjadi tanggungjawab bersama. Belajar dari kasus konflik Madinah di atas, untuk membentuk masyarakat madani (civil society) di Indonesia, perlu adanya penguatan persaudaraan berbasing kebangsaan. Persaudaraan berbasis kebangsaan ini bertujuan mempersatukan visi masyarakat Indonesia yang plural dan kompleks.

 


[*] Peneliti Studi al-Qur’an dan Hadis pada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

 

Iklan

8 thoughts on “PERKUAT PERSAUDARAAN KITA

  1. Manfaat yang diperoleh dengan terwujudnya masyarakat madani ialah terciptanya masyarakat Indonesia yang demokratis sebagai salah satu tuntutan reformasi di dalam negeri dan tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri. Di samping itu, menurut Suwardi (1999: 66) melalui masyarakat madani akan mendorong munculnya inovasi-inovasi baru di bidang pendidikan. Selanjutnya, ditambahkan oleh Daliman (1999: 78-79) bahwa dengan terwujudnya masyarakat madani, maka persoalan-persoalan besar bangsa Indonesia seperti: konflik-konflik suku, agama, ras, etnik, golongan, kesenjangan sosial, kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan pembagian “kue bangsa” antara pusat dan daerah, saling curiga serta ketidakharmonisan pergaulan antarwarga dan lain-lain yang selama Orde Baru lebih banyak ditutup-tutupi, direkayasa dan dicarikan kambing hitamnya; diharapkan dapat diselesaikan secara arif, terbuka, tuntas, dan melegakan semua pihak, suatu prakondisi untuk dapat mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat. Dengan demikian, kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi bangsa dapat dicegah.

  2. Ø Mun’im (1994) mendefinisikan istilah civil society sebagai seperangkat gagasan etis yang mengejawantah dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.

  3. Semoga dengan cara sederhana ini kita bisa membangun sendi sendi bangsa yang kokoh kuat dan mandiri sebagai pertahanan semesta dari gangguan konflik sosial yang kerap terjadi dengan meminimalisir kejadian awalnya di masyarakat yang paling dekat dengan sumbu konflik. Dengan berhasilnya upaya ini berarti masyarakat kita telah bertranformasi sosial dari masyakat yang gemar bertikai menjadi masyarakat yang maju beradab dan mandiri sebagai perwujudan masyarakat madani seperti yang dicita citakan bersama.

  4. Semoga dengan cara sederhana ini kita bisa membangun sendi sendi bangsa yang kokoh kuat dan mandiri sebagai pertahanan semesta dari gangguan konflik sosial yang kerap terjadi dengan meminimalisir kejadian awalnya di masyarakat yang paling dekat dengan sumbu konflik. Dengan berhasilnya upaya ini berarti masyarakat kita telah bertranformasi sosial dari masyakat yang gemar bertikai menjadi masyarakat yang maju beradab dan mandiri sebagai perwujudan masyarakat madani seperti yang dicita citakan bersama.

  5. Solidaritas yang dibangun melalui tradisi keagamaan, dari waktu ke waktu, telah memperkuat kesatuan komunitas sosial, dan tidak lagi memberi peluang terjadinya konflik bernuansa agama atau etnis. Sebaliknya telah terjadi kerjasama dalam aktivitas sosial keagamaan.

  6. Semoga dengan cara sederhana ini kita bisa membangun sendi sendi bangsa yang kokoh kuat dan mandiri sebagai pertahanan semesta dari gangguan konflik sosial yang kerap terjadi dengan meminimalisir kejadian awalnya di masyarakat yang paling dekat dengan sumbu konflik. Dengan berhasilnya upaya ini berarti masyarakat kita telah bertranformasi sosial dari masyakat yang gemar bertikai menjadi masyarakat yang maju beradab dan mandiri sebagai perwujudan masyarakat madani seperti yang dicita citakan bersama.

  7. Semoga dengan cara sederhana ini kita bisa membangun sendi sendi bangsa yang kokoh kuat dan mandiri sebagai pertahanan semesta dari gangguan konflik sosial yang kerap terjadi dengan meminimalisir kejadian awalnya di masyarakat yang paling dekat dengan sumbu konflik. Dengan berhasilnya upaya ini berarti masyarakat kita telah bertranformasi sosial dari masyakat yang gemar bertikai menjadi masyarakat yang maju beradab dan mandiri sebagai perwujudan masyarakat madani seperti yang dicita citakan bersama.

  8. Dalam pembicaraan sekarang ini, kita sering mendengar beberapa konflik sosial yang bersumber dari agama. Seperti perbedaan doktrin dan sikap, perbedaan suku dan ras umat beragama, perbedaan tingkat kebudayaan, dan masalah mayoritas dan minoritas pemeluk agama. Dari berbagai diskusi dan pendapat para pakar konflik dinyatakan bahwa akar konflik atau kekerasan yang ada di tanah air ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu konflik horizontal dan konflik vertikal. Konflik horisontal adalah konflik antar sesama masyarakat (seperti garis horizontal yang sejajar), sedangkan konflik vertikal adalah konflik antara pengusa dan rakyat/masyarakat (seperti garis vertikal yang tegak lurus). Kedua akar konflik tersebut setidaknya bersumber dari banyak muara yakni masalah-masalah social yang melatarbelakanginya seperti ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan sosial, konflik agama dan etnis serta perbedaan pandangan politik Dan konflik horisontal dan vertikal, saling memberikan amunisi. Ketika konflik horisontal terjadi, konflik vertikal memberikan api. Dan saat konflik horisontal terjadi, elit-elit memanfaatkannya, demikian seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s