Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Republika, 6 Maret 2011

Hilangnya Berkah Kehidupan Ilmu Amaliah yang Khasyatullah

KH A Hasyim Muzadi

Keberkahan hidup bisa hilang, antara lain karena hilangnya ‘lubb-inti’ dan pesan terdalam pada setiap kejadian dan penciptaan. Selain itu, ia juga bisa hilang karena ilmu yang tidak tumbuh atas dasar rasa takut kepada Allah (khasyatullah). Mudharat ilmu yang berkembang semata karena informasi keilmuan sudah sejak azali diingatkan oleh Allah melalui para rasul dan nabi-Nya. Dalam berbagai kesempatan, Rasulallah saw selalu memberikan sentuhan khusus mengenai ilmu dan rasa takut ini. Ilmu butuh rasa takut agar dijauhkan dari sifat takabur dan keputusasaan.

Bila ilmu berkembang dalam bentuknya sebagai informasi soal keilmuan belaka, pada tataran ini ia baru mampu bersifat ilmiah, belum amaliah. Padahal, ilmu sudah pasti tidak bebas nilai. Karena itu, selain sifatnya yang ilmiah, ilmu juga harus amaliah. “Ilmu tanpa amal, seperti pohon tanpa buah”. Lebih dari itu, ilmu ilmiah-amaliah harus berlandaskan rasa takut kepada Allah swt. Sebab, kini pohon tak didesain untuk berbuah, sekalipun bisa berbuah berkat perkembangan ilmu modern ilmu kloning tanpa rasa takut kepada Allah aka membuat tabiah hidup jungkir balik.

Ilmu statistik, misalnya, berkembang pesat hingga tingkat paling mengagumkan ilmu ini antara lain mengajarkan kita memetakan struktur dan ragam kemiskinan sehingga kia dapat informasi penyebab dan jumlah orang miskin di Indonesia. Karena baru sampai pada tahapan ilmiah, statistik hanya mempu memindahkan jumlah orang miskin ke dalam angka dan kurva. Belum pada manfaatnya yang sejati, yakni mengentaskan kemiskinan. Rasulallah mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Kini banyak cabang ilmu berkembang. Karena ketiadaan rasa takut kepada Allah, berberapa di antaranya berkembang di luar kendali nilai-nilai kemanusiaan. Menguasai ilmu fisika, matematika, teknologi, astronomi, ekonomi, politik, dan ilmu hukum, pada dasarnya amatlah penting untuk kehidupan. Tetapi, betapa ragam keilmuan ini telah jauh meninggalkan kemanusiaan yang sejati. Ilmu, kalau semata untuk ilmu, hanya akan terwujud sebagai informasi tentang ilmu, tidak lebih.

Bahkan untuk kepentingan tertentu, sebuah ilmu tidak akan mampu mmenuhi rasa keadilan masyarakat. Ilmu penelitian dalam kasus tertentu, mungin dapat membantu menjelaskan kepada para konsumen tentang suatu produk yang tidak layak konsumsi karena beberapa komposisinya mengandung zat berbahaya bagi kehidupan. Karena ketiadaan rasa takut kepada Allah, bisa jadi penguasaan dan keahlian meneliti seperti ini bukan semata tak berguna, melainkan justru bisa membinasakan umat manusia. Ilmu semacam ini telah tercerabut keberkahannya secara signifikan dan menyebabkan hilangnya berkah kehidupan secara signifikan pula.

Agama sudah sering kali mengingatkan bahwa kehidupan akan berjalan penuh berkah kalau rasa takut kepada Allah senantiasa mengalami proses up-dating. Sebab, hanya rasa takut kepada Allah itulah yang mampu menjalani kehidupan tanpa rasa takut kepada apa pun. “Barang siapa yang takut kepada Allah, segala sesuatu akan takut kepada-Nya. Dan barang siapa yang takut kepada selain Allah, ia akan takut kepada segala sesuatu.” (al-hadits)

Keyword mendatangkan keberkahan hidup, salah satunya amat bergantung pada seberapa takutkah kita kepada Allah swt. Takut kepada Allah membutuhkan ilmu dan rahmat dari-Nya. Sebab, hanya karena rahmat dari-Nya, kita akan dapat takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Ketinggian ilmu seseorang hanya akan membuanya semakin jauh dari Allah jika ia tidak memperoleh hidayah dari Allah. Hidayah dapat kita peroleh karena rahmat alias kasih sayang Allah kepada kita. “Barang siapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayah padanya, ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Dengan rahmat Allah, para pemilik ilmu bisa berkesempatan menjadi kelompok yang takut kepada-Nya. Para pemilik ilmu yang tak memiliki rasa takut kepada-Nya, Allah akan menghukumnya dengan kematian hati. Kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat. Betapa banyak kenyataan ini kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Betapa sering kita beramal akhirat, tapi yang kita harap kenikmatan dunia.

Imam al-Ghazali dalam Mukhtashar Ihya’ Ulumiddin, mengutip al-Khalil bin Ahmad, menyatakan: “Ada empat macam golongan manusia. Pertama, yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu. Kelompok ini adalah orang-orang berilmu yang layak kita ikuti. Kedua, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa dirinya tahu. Inilah sekelompok orang terlelap dalam tidurnya sehingga mereka perlu dibantu untuk bangun dan bangkit.

Ketiga, yang tidak tahu dan thu bahwa dirinya tidak tahu. Terhadap kelompok ini, maka ajarilah. Keempat, yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Terhadap kategori terakhi ini, kita harus waspada karena mereka tergolong orang yang bodoh tapi tak mau belajar.

Kini bergantung pada kita, mau masuk kelompok yang mana dari empat golongan tersebut. Suatu hal yang pasti, ilmu bisa mejelma menjadi pisau bermata dua. Kalau disadari dan didasari rasa takut kepada Allah, ilmu akan mengantarkan kita makin dekat kepada Allah. Dekat kepada Allah adalah kunci lahirnya keberkahan hidup. “Sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan.” (QS. [7]: 96). Ilmu tanpa khasyatullah akan membuat kebinasaan, seperti yang dialami ulama sekaliber Bal’am bin Baura’, yang mati terkubur dalam kekufurannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s