PESANTREN; PENDIDIKAN ISLAM ALA INDONESIA


PESANTREN; PENDIDIKAN ISLAM ALA INDONESIA[1]

Oleh Ahmad Suhendra, S.Th.I[2]

 

Orang yang berakal dan berbudaya takkan berdiam di satu tempat

Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman dan mengembaralah!

Pergilah, niscaya kau akan menemukan ganti dari orang yang kau tinggalkan

Dan berusahalah karena kenikmatan hidup ada dalam usaha

Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut

Sekiranya air itu mengalir, niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak

Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya

Niscaya orang Arab dan non-Arab akan bisan melihatnya.[3]

 

Mencari ilmu dalam Islam adalah kegiatan yang diwajibkan bagi semua umat Islam, laki-laki maupun secara garis besar, buku ini menguraikan perihal adab seorang yang mencari ilmu dan yang berkaitan dengan hal itu. Kita pasti mengenal kitab Ta’lim Muta’alim, kitab yang menguraikan tentang ‘akhlaq’ pencari ilmu, murid kepada guru, dan sebagainya.

Buku yang dibedah berjudul Mengapa Saya Harus Mondok di Pesantren? yang diterbitkan oleh penerbit Sidogiri. Secara umum, buku ini mengulas tentang seluk-beluk kepesantrenan. Mulai dari keutamaan ilmu-ilmu agama, etika belajar, sampai pada etika murid kepada guru dan sebaliknya. Baca lebih lanjut

Resensi: Menuai Hikmah Lewat Dongeng


MENUAI HIKMAH LEWAT DONGENG

Judul        :  Pesantren Dongeng: Melipur Hati, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah

Penulis     :  Awang Surya

Penerbit   :  Zaman

Cetakan   :  I, 2011

Tebal        :  224 Halaman

ISBN       :  978-979-024-270-8

Perensi     :   Ahmad Suhendra, S.Th.I

Saat kecil, di antara kita mungkin sering atau pernah dibacakan dongeng sebelum tidur oleh orang tua. Bahkan, mungkin dongeng itu masih tersimpan dalam telinga kita sampai sekarang. Namun, anak-anak sekarang sudah jarang atau bahkan tidak ada yang menikmati dongeng. Kemajuan teknologi membuat anak-anak terlena dengan permainan produk kemajuan teknologi. Mungkin dongeng sudah dianggap kuno, sehingga eksistensi dongeng dalam kancah dunia anak-anak sudah mulai terkikis.

Tradisi dongeng yang sudah hampir terkikis tampaknya ingin dipopulerkan kembali oleh penulis buku ini. Awang Surya menyodorkan sosok tokoh-tokoh yang lugu dan lucu. Dari keluguan ketiga santri kiai Sholeh itu, justru yang membuat buku ini menarik untuk dibaca. Keempat tokoh tersebut tinggal di suatu kampung yang bernama Bulusari.

Di dalam buku ini sebenarnya mbah Sholeh merupakan orang biasa. Dia bukan ustadz apalagi kiai yang mempunyai beribu-ribu jamaah atau yang memiliki pesantren dengan ratusan santri. Tapi mbah Sholeh hanya memiliki santri tiga orang yang selalu hadir untuk shalat berjamaah dengannya. Dan untuk mendengarkan dongeng yang diutarakan mbah Sholeh. Jadi yang memanggil kiai kepada laki-laki tua yang hidup sendirian itu hanya tiga orang itu.

Untuk menyampaikan pesan-pesan dongengnya, mbah Sholeh memiliki mushala di dekat rumahnya sebagai tempat berdakwahnya. Terkadang warga kampung ikut berjamaah di sana, tapi di waktu lain para warga berjamaah di masjid desa Bulusari. Di mushala kecil itulah para santri mengaji kepada mbah Sholeh. Pengjian yang diajarkanpun bukan ngaji sharaf, nahwu, bahasa Arab-Inggris, fiqh, ataupun kitab kuning seperti halnya pesantren. Tiga santri itu hanya mendengarkan dongeng yang disampaikan mbah Sholeh.

Para santri khusyu’ mendengarkan dongeng setiap selepas shalat magrib. Ketika mbah Shaleh merasa perlu menyampaikan dongeng kepada para santrinya maka pengajian dongeng dilaksanakan setelah shalat selain waktu biasanya. Di tengah asyiknya melantunkan dongeng, para santri terkadang bertengkar saling beradu omong atau bahkan saling meledek, terutama Sarimin yakni salah satu santri yang paling ngeyel.

Satu hal yang mungkin agak mengganjal ketika membaca buku ini adalah cerita yang terpotong-potong. Walaupun demikian, penulisnya bermaksud mengedepankan dongeng dibandingkan dengan kisah keempat tokoh yang ada dalam bukunya.

Di antara kita mungkin mengira dongeng merupakan cerita fiktif atau mitos belaka. Namun, dibalik itu terdapat segudang pelajaran atau hikmah yang ada di dalamnya. Begitu juga dengan dongeng-dongeng yang dituangkan oleh Surya.

Penyuguhan dongeng yang tak lepas dari aktivitas keseharian dalam bermasyarakat maupun bernegara. Pembaca diajak memahami hidup, dan menuai banyak hikmah yang harus direalisasikan dalam dongeng yang penuh inspiratif ini.

Buku karya Awang Surya ini memberikan percikan energi kehidupan yang diselingi dengan humor, sehingga pesantren dongeng ini tidak terkesan menggurui. Di aspek lain, secara tidak langsung karya berjudul ‘Pesantren Dongeng’ ini mengajak untuk menghidupkan dan melestarikan dunia dongeng di belantara Nusantara. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh masyarakat luas, untuk semua usia.

Peresensi adalah alumni Fak. Ushuluddin UIN Suka Yogyakarta dan staf pengajar YPI. al-Kamiliyyah, tinggal di Bogor.