PENGEMBARAAN IMAM AL-SYAFI’I MENCARI ILMU


cover buku biografi imam al-syafi'i, sumber: koleksi pribadi

cover buku biografi imam al-syafi’i, sumber: koleksi pribadi

PENGEMBARAAN IMAM AL-SYAFI’I MENCARI ILMU

Judul              :    Biografi Imam Syafi’i: Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid

Penulis           :     Dr. Tariq Suwaidan

Penerbit         :     Zaman

Penerjemah    :     Iman Firdaus

Penyunting     :     M. Taufik Damas

Cetakan         :     I, 2011

Tebal             :     310 Halaman

ISBN             :     978-979-024-095-7

Peresensi       :     Ahmad Suhendra*

“Qauli shawab yahtamilu al-khatha’, wa qaulu ghairi khatha’ yahtamilu al-shawab.” (Pendapatku benar, tetapi ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, tetapi ada kemungkinan benar).

Ungkapan imam Al-Syafi’i di atas mengusung nilai-nilai objektivitas dan toleran atas beberapa perbedaan dalam ijtihad. Belum lagi, pergolakan politik dan perkembangan keilmuan pada masa itu. Imam Al-Syafi’i mengalami pergesekan politik dua imperium Islam, yakni dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah.

Perseteruan antara ahli ra’yu dan ahli hadis yang bergejolak pada masa itu, juga ikut membentuk karakter keilmuan imam Al-Syafi’i. Selain itu, tumbuh suburnya aliran-aliran tertentu dalam fiqh juga turut berperan atas dideklarasikannya mazhab syafi’iyun. Dengan begitu, keilmuan imam Al-Syafi’i sebagai mujtahid tidak dapat dipisahkan dengan masa kejayaan Islam pada masa itu. Baca lebih lanjut

Resensi: Menuai Hikmah Lewat Dongeng


MENUAI HIKMAH LEWAT DONGENG

Judul        :  Pesantren Dongeng: Melipur Hati, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah

Penulis     :  Awang Surya

Penerbit   :  Zaman

Cetakan   :  I, 2011

Tebal        :  224 Halaman

ISBN       :  978-979-024-270-8

Perensi     :   Ahmad Suhendra, S.Th.I

Saat kecil, di antara kita mungkin sering atau pernah dibacakan dongeng sebelum tidur oleh orang tua. Bahkan, mungkin dongeng itu masih tersimpan dalam telinga kita sampai sekarang. Namun, anak-anak sekarang sudah jarang atau bahkan tidak ada yang menikmati dongeng. Kemajuan teknologi membuat anak-anak terlena dengan permainan produk kemajuan teknologi. Mungkin dongeng sudah dianggap kuno, sehingga eksistensi dongeng dalam kancah dunia anak-anak sudah mulai terkikis.

Tradisi dongeng yang sudah hampir terkikis tampaknya ingin dipopulerkan kembali oleh penulis buku ini. Awang Surya menyodorkan sosok tokoh-tokoh yang lugu dan lucu. Dari keluguan ketiga santri kiai Sholeh itu, justru yang membuat buku ini menarik untuk dibaca. Keempat tokoh tersebut tinggal di suatu kampung yang bernama Bulusari.

Di dalam buku ini sebenarnya mbah Sholeh merupakan orang biasa. Dia bukan ustadz apalagi kiai yang mempunyai beribu-ribu jamaah atau yang memiliki pesantren dengan ratusan santri. Tapi mbah Sholeh hanya memiliki santri tiga orang yang selalu hadir untuk shalat berjamaah dengannya. Dan untuk mendengarkan dongeng yang diutarakan mbah Sholeh. Jadi yang memanggil kiai kepada laki-laki tua yang hidup sendirian itu hanya tiga orang itu.

Untuk menyampaikan pesan-pesan dongengnya, mbah Sholeh memiliki mushala di dekat rumahnya sebagai tempat berdakwahnya. Terkadang warga kampung ikut berjamaah di sana, tapi di waktu lain para warga berjamaah di masjid desa Bulusari. Di mushala kecil itulah para santri mengaji kepada mbah Sholeh. Pengjian yang diajarkanpun bukan ngaji sharaf, nahwu, bahasa Arab-Inggris, fiqh, ataupun kitab kuning seperti halnya pesantren. Tiga santri itu hanya mendengarkan dongeng yang disampaikan mbah Sholeh.

Para santri khusyu’ mendengarkan dongeng setiap selepas shalat magrib. Ketika mbah Shaleh merasa perlu menyampaikan dongeng kepada para santrinya maka pengajian dongeng dilaksanakan setelah shalat selain waktu biasanya. Di tengah asyiknya melantunkan dongeng, para santri terkadang bertengkar saling beradu omong atau bahkan saling meledek, terutama Sarimin yakni salah satu santri yang paling ngeyel.

Satu hal yang mungkin agak mengganjal ketika membaca buku ini adalah cerita yang terpotong-potong. Walaupun demikian, penulisnya bermaksud mengedepankan dongeng dibandingkan dengan kisah keempat tokoh yang ada dalam bukunya.

Di antara kita mungkin mengira dongeng merupakan cerita fiktif atau mitos belaka. Namun, dibalik itu terdapat segudang pelajaran atau hikmah yang ada di dalamnya. Begitu juga dengan dongeng-dongeng yang dituangkan oleh Surya.

Penyuguhan dongeng yang tak lepas dari aktivitas keseharian dalam bermasyarakat maupun bernegara. Pembaca diajak memahami hidup, dan menuai banyak hikmah yang harus direalisasikan dalam dongeng yang penuh inspiratif ini.

Buku karya Awang Surya ini memberikan percikan energi kehidupan yang diselingi dengan humor, sehingga pesantren dongeng ini tidak terkesan menggurui. Di aspek lain, secara tidak langsung karya berjudul ‘Pesantren Dongeng’ ini mengajak untuk menghidupkan dan melestarikan dunia dongeng di belantara Nusantara. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh masyarakat luas, untuk semua usia.

Peresensi adalah alumni Fak. Ushuluddin UIN Suka Yogyakarta dan staf pengajar YPI. al-Kamiliyyah, tinggal di Bogor.

DALIL SEPUTAR IBADAH


Dalil Seputar Ibadah

 

Judul Buku      : Tafsir Ibadah

Penulis             : H. Abd. Kholiq Hasan

Penerbit           : Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan           : I, September 2008

Tebal               : xvi+332 Halaman

Perensi             : Ahmad Suhendra*

Ibadah merupakan bentuk penghambaan manusia terhad

ap Tuhan, dengan hal itu manusia menjalin komunikasi dengan penciptanya, Allah swt. Apabila dilihat secara umum ibadah memiliki dua tingkatan secara dogmatis, wajib dan sunah.

Pada aspek lain, jika dilihat secara definitif, ibadah berasal dari kata bah

asa Arab, ‘ibadah, kata ni merupakan turunan dari ‘a-ba-da, yang berarti…memiliki makna yang luas. Dengan ibadah ini akan terbangun komunikasi dengan Tuhan, baik bersifat personal maupun komunal. Baca lebih lanjut